Tampilkan postingan dengan label © Hak cipta dilindungi oleh undang-undang.. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label © Hak cipta dilindungi oleh undang-undang.. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Desember 2013

Terbentuknya Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda di Indonesia

Setelah berkuasa di Indonesia selama lebih kurang 200 tahun pada akhirnya VOC mengalami kebangkrutan. Hal itu disebabkan, antara lain oleh banyaknya biaya yang harus dikeluarkan untuk mengatasi perlawanan rakyat di berbagai daerah. Adanya korupsi dari para pegawai dan timbulnya persainga dengan kongsi-kongsi dagang lain.
Selain faktor seperti diatas, menjelang berakhirnya abad ke-18 di Eropa terjadi perubahan besar, yaitu meletusnya Revolusi Perancis. Di bawah pemerintahan Kaisar Napoleon Bonaparte, Perancis tumbuh menjadi negara besar dan kuat yang menguasai hampir seluruh wilayah Eropa, kecuali Inggris. Oleh karena itu, Belanda cemas akan kedudukannya di Indonesia terhadap serbuan Inggris. Mengingat makin merosotnya kedudukan VOC sehingga diperkirakan tidak akan mampu menghadapi serangan Inggris, pada tanggal 31 Desember 1799 VOC secara resmi dibubarkan. Pemerintah kolonial di Indonesia langsung dipegang oleh Kerajaan Belanda. Sejak saat itu, secara politis Indonesia dikuasai atau dijajah oleh pemerintah Kerajaan Belanda.

Pemerintahan di Indonesia kemudian dipegang oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels. Tugas utama Daendels adalah untuk mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Inggris dan mengatur pemerintahan di Indonesia, termasuk membereskan masalah keuangan.

Drs. Suparman dkk. 2004. Pengetahuan Sosial Sejarah, Solo: Tiga Serangkai

Berdirinya VOC


Banyak para pedagang Belanda yang datang ke Indonesia telah mendorong terjadinya persaingan sengit di antara mereka. Akibatnya, harga rempah-rempah di Indonesia menjadi tinggi padahal di Eropa cenderung menurun. Keadaan itu tentu saja menguntungkan Portugis sebagai pesaing Belanda. Apalagi Portugis telah lebih dahulu menerapkan monopoli di Indonesia dan Asia pada umumnya. Karena itulah untuk menghindari persaingan tersebut atas usul anggota parlemen Belanda, Johan van Oldebarnevelt dibentuklah perkumpulan dagang bersama. Usulan tersebut disamput positif sehingga pada taggal 20 Maret 1602 berdirilah Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) atau Persekutuan Dagang Hindia Timur.
                Adapun tujuan dibentuknya VOC, antara lain untuk
  1. Menghindari persaingan antarpedagang Belanda;
  2. Memperkuat posisi Belanda dalam menghadapi persaingan dengan bangsa-bangsa Eropa ataupun bangsa-bangsa Asia;
  3. Membantu pemerintah Belanda dalam berjuang menghadapi Spanyol yang masih menguasainya.
                Untuk menjalankan kegiatannya, VOC memperoleh hak istimewa dari pemerintah Kerajaan Belanda. Hak-hak istimewa VOC yang diperoleh itu, antara lain
  1. Hak membentuk tentara dan mendirikan benteng;
  2. Hak membuat mata uang sendiri;
  3. Hak mengangkat dan memberhentikan pegawai dari pangkat rendah sampai gubernur jenderal;
  4. Berhak berperang, berdamai, dan mengadakan perjanjian dengan raja-raja di negeri asing;
  5. Mendapat hak monopoli.
Wawasan
Usaha VOC agar monopoli perdagangannya tetap ditaati adalah melakukan kegiatan sebagai berikut.
Pelayaran Hongi
Pelayaran Hongi adalah pelayaran lengkap dengan perahu kora-kora untuk mengawasi dan mencegah terjadinya pelanggaran terhadap peraturan VOC.
Hak ekstirpasi
Hak ekstirpasi adalah hak untuk membinasakan pohon rempah-rempah yang berlebihan agar harga rempah-rempah di pasar mencanegara tetap tinggi.
                Dengan hak istimewa tersebut VOC telah bertindak sebagai lembaga pemerintahan dan penguasa perdagangan yang otonom. Untuk memperlancar aktivitas tersebut, VOC dipimpin seorang Gubernur jenderal. Jadi, seorang gubernur Jenderal VOC pertama adalah Pieter Both. Di bawah kepemimpinannya, VOC mulai menjalankan monopoli perdagangan dan perluasan daerah jajahan.
                Sebagai markas besar VOC yang pertama dipilih kota Ambon. Pilihan itu didasarkan pada pertimbangan bahwa Ambon dan Maluku pada umumnya merupakan penghasil rempah-rempah terbesar. Kedua, VOC telah melakukan monopoli perdagangan di tempat itu sehingga mudah untuk mengembangkannya. Pada perkembangannya, Pieter Both memindahkan markas besar VOC ke Jayakarta. Hal itu dilakukan dengan pertimbangan sebagai berikut.
  1. Letek Jayakarta lebih strategis, di jalur perdagangan Asia.
  2. Dari Jayakarta, VOC lebih mudah menyingkirkan Portugis di Maluku.
                VOC diizinkan Pangeran Jayakarta mendirikan markas besarnya di Jayakarta meskipun wilayah itu termasuk kekuasaan Banten. Beberapa tahun kemudian VOC mendapat saingan EIC (Perkumpulan Dagang Inggris) yang mendapat izin mendirikan kantor dagangnya di tempat itu. Akibatnya, muncul persaingan antara VOC dan EIC.

Drs. Suparman dkk. 2004. Pengetahuan Sosial Sejarah, Solo: Tiga Serangkai

Proses Kedatangan Bangsa Barat di Indonesia


Bangsa barat yang pertama kali datang ke Indonesia adalah bangsa Portugis.
Mereka mulai melakukan pelayaran dengan menyusuri pantai barat Afrika ke selatan, lalu membelok ke pantai timur Afrika, kemudian menuju ke utara, dan akhirnya sampai di Goa (India) pada tahun 1498. Ditempat itu bangsa Portugis yang dipimpin Alfonso d’ Albuquerque medirikan kantor dagang. Di sana pula mereka mendengar kabar tentang Malaka yang pada waktu itu telah berkembang menjadi sebuah pelabuhan dagang yang ramai.
       Mengtahui hal tersebut, d’ Albuquerque bermaksud mengadakan hubungan dengan Malaka. Untuk menjalankan niat itu, pada tahun 1509 ia mengirimkan utusan ke Malaka. Utusan itu tidak diterima dengan baik oleh Sultan Mahmud Syah. Hal itu di sebabkan Sultan Mahmud Syah telah mendengar perilaku buruk Portugis. Oleh karena itu, Portugis kemudian mengirimkan pasukan ke Malaka dan berhasil menguasai pada tahun 1511.
          Pada tahun 1512 d’ Albuquerque mengirimkan beberapa kapal ke arah timur Indonesia dan mendarat di Ternate, Maluku. Ketika bangsa Portugis tiba di Ternate, Kerajaan Ternate sedang bertikai dengan Kerajaan Tidore. Portugis disambut baik Raja Ternate dengan maksud agar Portugis bersedia menjadi sekutunya dalam melawan Tidore. Di sisi lain kedatangan bangsa Portugis di Maluku ternyata diikuti oleh bangsa Spanyol yang berhasil menjalin hubungan dengan Tidore. Padahal, Tidore dan Ternate saling bermusuhan. Akibatnya, permusuhan itu pun akhirnya merembet pada dua bangsa kulit putih, yaitu Spanyol dan Portugis.
Untuk menyelesaikan pertikaian Spanyol dan Portugis diadakan perjanjian damai pada tanggal 22 April 1529. Perjanjian damai itu dikenal sebagai Perjanjian Saragosa. Sebenarya, Perjanjian Saragosa sendiri merupakan hasil perbaikan dari Perjanjian Tordesillas pada tanggal 7 juni 1494. Isi perjanjian itu pada intinya sebagai berikut.

  1. Bumi ini dibagi atas dua pengaruh, yaitu pengaruh bangsa Spanyol dan Portugis.
  2. Wilayah kekuasaan Spanyol membentang dari Meksiko ke arah barat sampai ke Filipina. Adapun kekuasaan Portugis membentang dari Brasilia ke arah timur sampai ke Kepulauan Maluku.

Jadi, berdasarkan revisi dari Perjanjian Tordesillas, Spanyol harus kembali ke Filipina. Adapun Portugis berkuasa atas Kepulauan Maluku dan sekitarnya.
Pada akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17 giliran orang-orang Belanda, Inggris, Denmark, dan Prancis yang datang ke Indonesia. Motif kedatangan mereka umumnya sama dengan tujuan kedatangan orang-orang Portugis.
Pada tahun 1595, belanda memberangkatkan empat buah kapal ke Indonesia dengan dipimpin Cornelius de Houtman dan Pieter de Kaizer. Mereka menuju Indonesia dengan menyusuri pantai barat Afrika untuk sampai di Tanjung Harapan. Setelah itu dengan mengarungi Samudra Hindia sampailah di Indonesia melalui Selat Sunda.
Pada tahun 1596 empat kapal Belanda mendarat di Banten yang pada saat itu mejadi pusat perdagangan lada putih. Karena sikapnya yang congkak dan semena-mena, para pelaut Belanda tidak begitu mendapat simpati dari penguasa dan rakyat Banten. Belanda kemudian mencoba mengalihkan pembelian rempah-rempahnya ke Maluku. Usaha ini pun gagal sehingga mereka kembali ke negerinya.
Meskipun gagal pada ekspedisi pertama, Belanda telah berhasil merintis jalan pada ekspedisi berikutnya. Akibat perubahan perilakunya, beberapa perusahaan Belanda yang mengirim ekspedisi dagangnya ke Indonesia berhasil menjalin hubungan dengan penguasa pribumi. Belanda pun berhasil memperoleh keuntungan besar dari perdagangannya.

Drs. Suparman dkk. 2004. Pengetahuan Sosial Sejarah, Solo: Tiga Serangkai